Senin, 18 Mei 2015

SENSOR OKSIGEN dan Kontrol EMISI (tamat)

SENSOR OKSIGEN dan Kontrol EMISI (tamat)
Oleh Junisra Syam - JPM Automotive Education Center.
Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Sierra Research Inc, pada tahun 1996, bahwa kegagalan oksigen sensor adalah merupakan "sumber utama dan terbesar” dari kegagalan emisi, merupakan penyebab kedua dari buruknya emisi setelah mesin konvensional-karburator.
US Environmental Protection Agency (EPA) dan California Air Resources Board (CARB) menemukan bahwa 40 - 60% kendaraan yang gagal dalam uji emisi akibat kesalahan oksigen sensor; menyebabkan tingginya hidrokarbon (HC) dan atau karbon monoksida (CO) pada emisi, oleh sebab itu memeriksa kerja sensor oksigen selalu menjadi prioritas utama jika kendaraan gagal uji emisi.
Kinerja Oksigen Sensor bisa diperiksa dengan membaca tegangan sinyal/output sensor (voltmeter), sinyal tegangan juga dapat ditampilkan dalam bentuk gelombang dilihat dengan osiloskop guna memastikan bentuk sinyal arus bolak-balik dalam mengatur AFR gemuk/bagus-ideal/atau kurus. Atau dengan mencermati nilai Fuel Trim melalui scantool.
Jangan Tunggu Sensor Oksigen Rusak:
Untuk meminimalkan konsekuensi penuaan normal, sebaiknya/disarankan penggantian oksigen sensor dilakukan secara periodis seperti interval perawatan berkala sebagai berikut;
Tipe oksigen sensor yang terpasang pada mesin mobil awal 1980-an (mungkin mobil ini tidak ada di Indonesia) diganti setiap 30.000 - 50.000 km (Oksigen Sensor tipe ini hanya memiliki 1 kabel sebagai tegangan sinyal, pamanasan sensor dilakukan oleh gas buang).
Generasi oksigen sensor yang terpasang pada mesin pertengahan 1980-an sampai pertengahan 1990-an diganti setiap 60.000 km (tipe Oksigen Sensor ini memakai 2 atau 3 kabel; 2 kabel tegangan sinyal dan 1 kabel pemanas elemen).
Generasi oksigen sensor terbaru yaitu tahun1990-an sampai sekarang, diganti setiap 100.000 km (Tipe Oksigen Sensor generasi terakhir memiliki 4 kabel; 2 kabel sebagai pemanas elemen dan 2 kabel lagi untuk tegangan sinyal sensor).
Menjaga sensor oksigen selalu segar dan bekerja dengan benar tentu saja akan dapat menghemat bahan bakar sebanyak 15% -20% dari operasional biasa, sekaligus akan meminimalisir emisi-gas buang, mengurangi resiko kerusakan yang lebih mahal untuk mengganti katalitik dan memastikan kinerja mesin dalam kinerja prima.
Alasan inilah yang menyarankan agar sensor oksigen sebaiknya diganti secara berkala atau katakanlah seperti interval penggantiani busi, terutama pada kendaraan yang lebih tua.
Pilih Sensor Oksigen yang Benar untuk Hindari Masalah:
Dalam mengganti sensor oksigen pilihlah dengan benar/tepat dan yang asli agar tidak mengalami masalah saat penggantian. Pilih sensor oksigen dengan konektor dan jumlah pin kabel yang sama/cocok sama seperti aslinya, untuk menghindari salah merangkai atau kerusakan sensor oksigen tersebut setelah pemasangan.
Beberapa sensor oksigen dengan tiga atau empat kabel secara umum memiliki tingkat pemanasan yang berbeda oleh karena itu pasangkanlah sensor yang bentul-betul sama jika diperlukan penggantian, kalau tidak akan menimbulkan masalah lebih lanjut seperti resiko kerusakan ECU dan Oksigen Sensor sendiri jika terjadi kesalahan penggantian.
Penutup
1. Meningkatnya konsumsi bahan bakar, masalah ”driveability"/kinerja mesin, lampu check engine menyala, emisi buruk, adalah merupakan tanda awal kegagalan sensor oksigen.
2. Konsekuensi besar dari setiap kegagalan sensor oksigen dapat merusak catalytic converter yang sangat mahal
3. Jika terjadi kegagalan test emisi (HC-CO) yang dilakukan setiap interval servis, maka prioritas kerja utama adalah memastikan fungsi O2 Sensor dan CC
4. Menjaga oksigen sensor selalu bekerja dengan benar dapat menurunkan konsumsi bahan bakar sebanyak 15% -20% (silahkan menghitung berapa nilai uang yang bisa dihemat tiap tahunnya). Menjaga sensor dalam kondisi operasional yang baik juga akan meminimalkan emisi-gas buang, mengurangi resiko kerusakan mahal untuk katalitik dan memperoleh kinerja prima mesin.
5. Uji Emisi adalah bagian item kerja dari perawatan berkala kendaraan saat ini agar kinerja O2 Sensor dan katalitik dapat diketahui secara dini.
6. Disarankan agar penggantian oksigen sensor dilakukan secara periodis, untuk menghindari kerusakan katalitik yang lebih mahal.
Semoga bermanfaat.! (disarikan dari berbagai sumber).

penulis :
JPM Automotive Education Center

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Design Blog, Make Online Money