Kamis, 19 Maret 2015

HAL-HAL YANG BISA MENJADI PEMICU KEHANCURAN DAN KEBANGKITAN BENGKEL- SERIAL BAG 6

Serial Kewirausahaan :
"Cara Mudah Mendirikan Bengkel Bagi Mekanik Bag. 6"
HAL-HAL YANG BISA MENJADI PEMICU KEHANCURAN DAN KEBANGKITAN BENGKEL

Assalaamu'alaikum..
Salam sejahtera sahabat mekanik diseluruh Indonesia.
Semoga kabar sehat selalu atas sahabat-sahabatku beserta keluarga. Alkhamdulillaah.. Setelah bertapa beberapa saat...bahagia sekali saya bisa menjumpai sahabat semua..melanjutkan serial kewirausahaan yang telah saya tulis dalam lima episode yang lalu.
Senang sekali, begitu banyak sahabat menanggapi positif baik lewat BBM, inbox, komen bahkan telpon langsung untuk berbagi berbagai hal ikhwal pengembangan usaha skala kecil. Ini menandakan suatu perkwmbangan sangat oositif dumana para mekanik yang ingin atau sudah mandiri memiliki iktikad untuk melakukan langkah-langkah positif demi maju dan berkembangnya usaha yang sedang dilakukan.
Pada kesempatan indah kali ini, kita sampai pada pembahasan seperti judul diatas.
Bahwa, membangun sebuah usaha, adalah sangat mudah manakala telah memenuhi kriteria syarak ini yaitu : skill/keahlian (SDM), lokasi, alat, dan modal lalu dirikan, lakukan promo/iklan. Beres.
Namun..pada perjalanannya, ternyata bisa terjadi keadaan dua hal yang sangat berbeda.
Dua orang yang memiliki skil, lokasi, alat, dan modal..lalu mendirikan bengkel. Dalam dua atau tiga tahun kedepan..ternyata yang si A bisa berkembang sesuai yang diinginkan. Sedang si B...bengkelnya..hidup segan mati tak mau...alias jalan ditempat hehe.
Lalu timbul pertanyaan...apa yang menyebabkan dua hal berbeda ini bisa terjadi.
Oke, mari kita runut saru persatu biar kita tahu, bahwa lepas dari segala ketentuan-NYA, kita diwajibkan untuk berusaha. Dan dalam pengelolaan usaha inilah yang akan menentukan.
Setiap usaha yang dibangun, memiliki kesempatan yang sama untuk maju dan berkembang. Pada topik kali ini kita akan membahas tentang hal-hal yng terkadang terkesan sepele, nmun bisa merugikan/menguntungkan bagi perkembangan bengkel yang sudah berjalan.
A. Faktor Internal
Adalah faktor2 yang datang dari dalam bengkel itu sendiri. Faktor ini dibagi menjadi dua :
1. Faktor Pemilik bengkel
a. Bossy /Jumawa
b. Otoriter / Semena-mena
c. Congkak / Sulit menerima masukan
d. Inkonsisten/indisipliner
e. Tidak Amanah
2. Faktor Sumber daya manusia/karyawan bengkel
a. Sikap dan perilaku
b. Tak kooperatif
c. Tidak Amanah
Yuuk...kita urai dari :
1. Faktor dari Pemilik Bengkel
a. Bossy dan Jumawa
Adalah sikap dimana selalu menempatkan diri untuk dianggap sebagai Bigboss. Harga diri sangat diperhitungkan, latah memiliki vanyak keinginan yang berkaitan dengan kemewahan.
Banyak sekali sering kita lihat disekitar kita, berbagai jenis usaha dibuka..lalu dlm waktu beberapa saat saja mampu eksis dan berkmbang pesat, namun tak berapa lama tiba-tiba meredup dan gulung tikar.
Kita lantas bertanya, ada apa ? Whats wrong?
Jamak kita tahu, semakin besar kekuatan seseorang, maka semakin besar pula konsekwensi dan tanggung jawabnya.
Seseorang, manakala tak membekali diri dengan mentalitas yang kuat, maka ketika usaha yang dirintisnya maju pesat, maka godaan untuk merubah gaya hidup semakin kuat.
Merasa penghasilan perbulan sdh lbh dari cukup, lalu mulai merencanakan pembelanjaan yang tak terencana. Awalnya hanya sebatas Hp produk terkini, lalu Laptop, lalu sepeda bermerek, arloji, pakaian, motor, mobil baru, hangbout, tiap malam keluar bervuru marchendising dan kuliner, kartu kredit, belanja online ini itu !
Apakah itu salah? Kan uang juga uang dia..dari hasil kerja keras dia...wajar dong kalau mau menikmati hasil kerja kerasnya. Oke...sepakat deh.
Namun perlu diingat, awal mula usaha walau sudah jalan dengan baik, adalah masih sangat rentan dengan kondisi gejolak pasar. Dimana masih sangat mungkin fluktuasi ekonomi akan berimbas pada kelangsungan usaha.
Pointnya adalah...pembelanjaan yang hanya untuk menuruti life style meski kondisi usaha lancar...adalah sangat merugikan kelangsungan usaha..dikarenakan kemajuan diawal usaha adalah menjadi MOMENT YANG TEPAT UNTUK MEMPERBANYAK PENGUATAN PONDASI USAHA BAIK DENGAN MENABUNG DAN INVESTASI BARANG BERHARGA.
Ini sangat bermanfaat untuk mengantisipasi kondisi fluktuasi pasar yang tidak selamanya stabil.
Kelak akan akan tiba waktunya untuk menikmati hasil jerih payah kita. Andai memang harus belanja diantara hal tersebut, pastikan telah mempertimbangkan dengan masak daya beli yang tidak sampai mengancam kesehatan keuangan usaha.
Ingan...meleset sedikit saja terhadap tata kelola usaha..akan sangat sulit bangkitnya. Dan saya sendiri telah mengalaminya hingga bisa jauhblebih berhati-hati dan mempertimbangkan skala prioritas.
Sedangkan JUMAWA adalah menempatkan diri seolah lebih kelasnya dari orang lain sehingga cenderungbmemandang rendah orang sekitar. Coba sesekali kita masuk pusat gerai kuliner dan pesan makanan, akan ada sebagian mata dr pengunjung yang memandang sebelah mata pada kita bahkan untuk sekedar berbagi tempat duduk saja enggan beringsut..padahal kita membayar dg uang yang sama dg mereka. Inilah yang pwrnah Rosuulullooh khawatirkan telah terjadi..dimana manusia dinilai dari apa yang dibeli...dan apa yang dipakai. Materialisme.
Semoga, sahabat-sahabat ku semua termasuk golongan orang2 yang empati dan rendah hati.
b. Otoriter/ semena-mena
Kondusifitas suasana kerja adalah dambaan setiap pekerja. Mereka dapat menuangkan selruh kemampuan secara total tanpa merasa tertekan, sehingga dengan sendirinya pekerjaan akan berjalan dengan lancar yang akan berimbas pada peningkatan efektifitas waktu pengerjaan dan peningkatan hasil kerja.
Banyak sekali kita sering mendengar karyawan menentang juragan hanya karena pimpinan semena-mena dalam menyuruh karyawan tanpa melihat situasi kondisi pekerja.
Pekerja sdh sangat tahu tugas dan kewajibannya...sehingga kita hanya perlu mengontrol dan memberi arahan pada bagian- bagian tertentu yang sekiranya kurang mereka pahami. Menyuruh dengan nada kasar pada saat mereka sedang dalam kondisi lelah hanya akan memicu emosi dan menimbulkan ketidak nyamanan. Yang sangat berimbas negatif bagi kelangsungan usaha. Hendaklah kita mampu mengendalikan dengan mengedepankan empati dan pendekatan kasih sayang..akan jauh lbih manjur.
c. Congkak dan tak mau menerima masukan
Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Manusia adalah makhluk yang penuh kekurangan. Maka dalam satu ayat Al-qur'an-pun diterangkan tentang tugas kita untuk saling ingat mengingatkan dakam kesabaran dan kebaikan. Sebagai seorang pemimpin, keyika mengelola bengkel yang penuh dengan kompleksitas problematika, maka akan sangat mungkin kita mengalami kondisi lupa atau kurang mengerti terhadap suatu hal. Sehingga dibentuklah sebuah team, yang nantinya diharapkan saling berbagi untuk tercapainya sebuah penanganan servise yang komprehensif. Kita selaku pimpinan, adalah memberikan pluang seluas-luasnya pada seluruh anggota team, berikan mereka kelonggaran menentukan tata cara solving yang sesuai dg prosedural yang telah ditetapkan. Dan kita tinggal menengahi dg bijak manakala terjadi kendala. Kerjasama team yang kompak akan melahirkan solving yang akurat...efektif dan memuaskan.
Ketidak mauan menerima masukan hanyalah memperkeruh suasana kerja.
Hindari kebiasaan melempar tang obeng..dongkrak..dan berkata, "disini ini aku bossnya yang berkuasa, kalian kerja saja, ingat itu dibenak kalian jangan banyak cing cong !"
Hehehe...runyam deh...ingat, dua kepala lebih baik dari satu kepala. Team mate!
d. Inkonsisten / indisipliner
Adalah sikap yang tidak konsisten dan tidak disiplin, dalam corps military, dua sikap ini menjadi doktrin utama untuk dijauhi personilnya. Begitu juga dlm hal usaha, sikap konsisten dan disiplin dalam menjalankan usaha adalah mutlak. Banyak kasus ketika seorang konsumen dtg pd bengkel kita untuk perbaikan mobil konsumen tidak mendapati pemilik usaha..namun hanya karyawan.
" Waduh, maaf pak. Majikan ndoro juragan sedang hang out cari batu akik, ada yang bisa kmi bantu?!" sambut karyawan
" O..ya sudah, lain kali saja mas, makasih!" kata konsumen sambil kabur...hehehe
Bolehlah kita beralibi dan membuat tulisan "semua mekanik dibengkel kami telah dibekali dengan kemampuan tehnik yang bersertifikasi!".
Namun, keyakinan dan kepercayaan konsumen terasa manteb bila ada pemimpin yang stand by dilokasi.
Konsumen merasa dg keberadaan pemilik bgkel, ia yakin bahwa mobilnya dalm penanganan tepat karena diampu oleh pemilik langsung yang akan selalu memantau pekerjaan karywannya.
Pointnya...semaju apapun itu sebuah usaha, membiasakan pergi pada jam kerja akan mengancam kelangsungan usaha.
e. Tidak Amanah
Amanah = Jujur dan adil pada konsumen.
Jujur, lakukan analisa pekerjaan sesuai dengan kerusakannya. Jangan sampai main tunjuk, ini rusak, itu rusak, ini ganti itu ganti.
Jangan pernah menukar barang milik mobil yng satu dengan mobil yang lain dengan imbalan dari konsumen nakal yang ingin barang bagus biaya mini. Hati2 dg konsumen tipe ini.
Adil, memberikan harga sesuai dengan kepatutan da dg kesepakatan. Sebagai pemilik bengkel tentu memiliki kemampuan menentukan harga jasa dan alat dengan adil.
Sahabat-sahabat ku....
Mengelola bengkel adalah pekerjaan yang tak mudahckarena melibatkan pihak kedua.
Boleh saja kita master teknisi, namun tanpa didukung pengelolaan manajerial sistem kerja yang baik dan profesional...siap-siap saja kita ditinggal konsumen.
2. Faktor Sumber Daya Manusia
Adalah faktor pendukung yang datang dari karyawan.
a. Sikap dan Perilaku
Sikap dan perilaku positif karyawan terhadap pekerjaan dan konsumen sangat membantu daya ungkit usaha.
Menjadi tugas kita sebagai pemilik untuk membekali karyawan dengan attitud yang baik tentang bagaimana sikap dan perilaku agar pekerjaan dapat berjln dg baik.
Karyawan yang kasar dan temeramental akan berdampak negatif bgi konsumen. Karena sgt mngkin terjadi konsumen berinteraksi dengan karyawan...jangan sampai keluhan konsumen pada karyawan menimbulkan tang..obeng melayng di jidat konsumen..hehehe.
Meja hijau bisa digelar dengan pasal penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan.
b. Tidak kooperatif
Pemilik bengkel wajib menerapkan aturan baku tentang penanganan kerja yang prosedural dan sistematik. Agar proses kerja dapat berjalan dg lancar. Karyawan tak kooperatif dapat mengacaukan sistem kerja yang bisa berimbas pada menurunya produktifitas usaha serta terhambatnya pekerjaan yang menjadikan konsumen kecewa.
c. Tidak amanah
Lakukan pembinaan yang konseptual dan berkesinambungan bahwa keberlangsungan usaha juga usaha ikut ditentukan oleh profesionalisme karyawan dengan bekerja jujur dan sesuai work order.
Waah...tak terasa udah panas ni hapenya....kiranya cukup sampai disini dulu..semoga memberi manfaat. Salam dan doa terindah menyertai. Tetap semangat dan saling berbagi ilmu demi kemajuan bersama.
Bravo AMBINDO
Bravo FKMOI...

original post and write by Khozin Natul Asror Sidiq
 # member dan admin fkmoi #
 # owner di bengkel one stop service # 
MODENA AUTO SERVICE 
YOGYAKARTA 

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Design Blog, Make Online Money